Menulis footnote (catatan kaki) dalam bahasa Inggris, khususnya untuk bidang karya ilmiah, humaniora, dan sejarah, umumnya mengacu pada Chicago Manual of Style (CMS) sistem Notes and Bibliography. Sistem ini sangat diandalkan karena mampu menyediakan ruang bagi penulis untuk memberikan rincian sumber yang sangat spesifik dan akurat, sekaligus ruang untuk komentar tambahan langsung di kaki halaman tanpa mengganggu alur baca teks utama.
Dalam aplikasinya, sistem CMS ini mewajibkan penulisan nomor superskrip di akhir kalimat dalam teks yang kemudian merujuk pada catatan kaki di bagian bawah halaman yang sama. Format footnote pertamanya memuat elemen lengkap seperti nama penulis (tidak dibalik), judul karya, data publikasi di dalam tanda kurung, serta nomor halaman spesifik, yang nantinya akan dipasangkan dengan daftar bibliografi alfabetis di akhir dokumen. Berikut adalah 10 cara penulisan footnote bahasa Inggris yang benar:
1. Meletakkan Nomor Footnote Setelah Tanda Baca
Di dalam teks utama, nomor penanda footnote (angka superskrip seperti ¹) wajib diletakkan di akhir kalimat atau klausa tepat setelah tanda baca, seperti titik, koma, atau tanda kutip, dan bukan sebelum tanda baca. Aturan penempatan ini bertujuan untuk menjaga kerapian teks utama agar pembaca tidak terganggu oleh angka yang memotong kata atau tanda baca, sekaligus mempertegas bahwa seluruh gagasan atau kutipan dalam klausa tersebut merujuk pada sumber yang sama.
Menerapkan metode penempatan setelah tanda baca ini sangat efektif untuk melatih ketelitian dan disiplin dalam penulisan ilmiah. Cara ini melatih penulis untuk lebih peka dalam menyusun struktur kalimat, memastikan batas-batas gagasan yang dikutip secara presisi, serta membiasakan diri mengikuti standarisasi akademis internasional seperti Chicago Manual of Style demi menjaga profesionalitas karya tulis.
Contoh: According to Smith, the global temperature is rising significantly¹ (Benar)
Bukan: According to Smith, the global temperature is rising significantly1. (Salah)
2. Format Indentasi dan Spasi di Bagian Bawah Halaman
Pada bagian bawah halaman tempat footnote berada, baris pertama dari setiap catatan kaki harus menjorok ke dalam (indented) sebanyak 5 spasi atau sekitar 0,5 inci (1 kali tekan tombol tab), sementara baris berikutnya kembali sejajar dengan margin kiri normal. Aturan indentasi ini sangat penting karena membantu pembaca untuk membedakan dengan cepat awal dari setiap nomor catatan kaki yang baru, terutama ketika halaman tersebut memuat banyak rujukan sekaligus.
Selain masalah posisi, pengaturan jarak antar-baris juga memegang peranan penting dalam menjaga kerapian tata letak halaman. Teks dalam satu catatan kaki yang sama diatur menggunakan spasi tunggal agar tetap padat dan hemat ruang, sedangkan jarak pembatas antara satu footnote dengan footnote berikutnya wajib menggunakan spasi ganda (double spacing) untuk memberikan ruang jeda yang bersih dan nyaman dibaca.
3. Penulisan Nama Penulis Tidak Dibalik
Berbeda dengan penulisan Daftar Pustaka (Bibliography) yang membalik nama belakang penulis ke depan, penulisan nama penulis dalam footnote bahasa Inggris mengikuti urutan normal. Format yang digunakan adalah Nama Depan (First Name) diikuti langsung oleh Nama Belakang (Last Name), tanpa perlu disisipi tanda koma di antara kedua nama tersebut.
Penerapan urutan normal ini sangat efektif untuk menjaga kelancaran membaca (readability). Karena catatan kaki berfungsi sebagai referensi cepat saat membaca teks utama, penyebutan nama penulis secara natural sebagaimana mereka dikenal secara publik membuat proses verifikasi sumber menjadi lebih instan dan tidak kaku bagi pembaca.
Contoh dalam Footnote: 1. John Smith, The Future of AI…
Bukan: 1. Smith, John, The Future of AI…
4. Format Dasar untuk Sumber Buku (Satu Penulis)
Format standar untuk footnote buku dengan penulis tunggal ditulis secara berurutan mulai dari Nama Penulis (tidak dibalik), Judul Buku (dicetak miring), serta data publikasi seperti Kota Penerbit, Nama Penerbit, dan Tahun Terbit yang diapit di dalam tanda kurung, lalu diakhiri dengan Nomor Halaman spesifik. Pemisahan antar-elemen di dalam catatan kaki ini secara konsisten menggunakan tanda koma, bukan tanda titik seperti pada daftar pustaka.
Penerapan format dasar ini sangat efektif untuk memberikan identitas kepemilikan karya yang utuh dan langsung pada poinnya. Dengan menyatukan seluruh informasi penerbitan di dalam satu tanda kurung, pembaca dapat langsung memverifikasi kredibilitas, konteks waktu, dan orisinalitas dari sumber buku yang kamu gunakan hanya dalam satu kali lirik ke bagian bawah halaman.
Contoh: 2. Robert Hughes, The Shock of the New (New York: Alfred A. Knopf, 1981), 45.
5. Gunakan Format Singkatan “p.” atau “pp.” Secara Tepat
Dalam beberapa gaya penulisan, nomor halaman bisa ditulis langsung angkanya saja setelah tanda koma. Namun, jika format jurnal atau institusi kamu mewajibkan penggunaan indikator halaman, gunakan singkatan “p.” untuk merujuk pada satu halaman tunggal (page) dan “pp.” untuk merujuk pada rentang beberapa halaman sekaligus (pages).
Penerapan indikator halaman ini sangat efektif untuk memberikan kejelasan instruksi yang presisi bagi pembaca yang ingin menelusuri kutipan kamu. Dengan membedakan penggunaan “p.” dan “pp.”, pembaca dapat langsung mengetahui sejak awal apakah informasi yang kamu ambil berada di satu titik halaman tertentu atau merupakan kesimpulan dari pembahasan yang panjang di beberapa halaman.
p. (singkatan dari page) untuk satu halaman tunggal. Contoh: p. 23.
pp. (singkatan dari pages) untuk halaman rentang/jamak. Contoh: pp. 23–27.
Baca Juga: Cara Menulis Artikel Bahasa Inggris Menarik di Mata Pembaca, Wajib Tahu!
6. Cara Menulis Sumber Buku dengan Dua atau Tiga Penulis
Format penulisan untuk buku yang ditulis oleh dua atau tiga orang wajib mencantumkan semua nama penulis sesuai urutan asli pada sampul buku, dengan menyisipkan kata hubung “and” sebelum nama penulis terakhir. Sama seperti format penulis tunggal, nama-nama tersebut ditulis dalam urutan normal Nama Depan diikuti Nama Belakang dan dipisahkan dengan tanda koma sebelum beralih ke judul buku yang dicetak miring serta data publikasi dalam tanda kurung.
Penerapan metode ini sangat efektif untuk memberikan apresiasi dan hak kekayaan intelektual yang adil kepada setiap kontributor utama karya tersebut. Dengan menampilkan seluruh nama tanpa ada yang dipotong, pembaca dapat melihat kolaborasi akademis di balik buku tersebut secara utuh, sekaligus memudahkan pelacakan referensi silang jika para penulis tersebut juga memiliki karya independen lainnya.
Contoh: 3. Sarah Jenkins and Michael Adams, Global Marketing Strategies (London: Routledge, 2018), 112.
7. Aturan Penulisan untuk Buku Lebih dari Tiga Penulis (et al.)
Format penulisan untuk buku yang ditulis oleh empat orang atau lebih tidak mengharuskan kamu untuk mencantumkan seluruh nama mereka di bagian kaki halaman. Urutan standarnya adalah cukup tulis nama depan dan nama belakang penulis pertama, diikuti dengan singkatan Latin “et al.” (singkatan dari et all yang berarti “dan kawan-kawan”) yang dicetak miring atau tegak sesuai gaya selingkung jurnal, lalu dilanjutkan dengan judul buku dan data publikasi seperti biasa.
Penerapan sistem “et al.” ini sangat efektif untuk menjaga efisiensi ruang dan estetika halaman di bagian bawah teks utama. Dengan meringkas daftar penulis yang panjang, footnote tidak akan memakan terlalu banyak tempat yang dapat mengalihkan fokus pembaca, namun tetap mempertahankan akurasi akademis karena nama lengkap seluruh kontributor tersebut nantinya akan tetap dijabarkan secara utuh pada bagian Daftar Pustaka (Bibliography).
Contoh: 4. David Miller et al., Introduction to Modern Physics (Chicago: University of Chicago Press, 2015), 89.
8. Format Penulisan Sumber Artikel Jurnal Ilmiah
Format penulisan sumber artikel jurnal ilmiah, baik cetak maupun online, wajib mengikuti aturan standardisasi agar mempermudah pelacakan referensi. Saat kamu mengambil referensi dari sebuah jurnal, bagian judul artikel ditulis di dalam tanda kutip (“…”). Sebaliknya, nama jurnalnya dicetak miring (italic) untuk membedakannya secara jelas dari judul artikel.
Setelah nama jurnal, informasi referensi harus dilengkapi secara berurutan dengan menyertakan nomor volume, nomor isu (dalam tanda kurung jika ada), tahun terbit, dan nomor halaman yang dirujuk. Untuk jurnal online, kamu juga perlu menambahkan Digital Object Identifier (DOI) atau tautan URL aktif di akhir sitasi sebagai elemen penguat sumber digital.
Contoh: 5. Emily Watson, “Climate Change and Marine Life,” Environmental Science Journal 14, no. 2 (2021): 45–48.
9. Menyertakan URL atau DOI untuk Sumber Digital
Menyertakan Digital Object Identifier (DOI) atau URL pada akhir footnote merupakan langkah penting dalam penulisan karya ilmiah digital. Elemen ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pembaca langsung ke dokumen asli secara online. Dengan adanya tautan aktif ini, proses verifikasi data, pelacakan referensi, dan validasi keaslian sumber yang kamu kutip menjadi jauh lebih cepat dan akurat.
Di antara keduanya, penggunaan DOI jauh lebih disarankan dibandingkan URL biasa. Hal ini karena DOI bersifat permanen dan tidak akan berubah meskipun artikel tersebut berpindah domain web atau server penerbit. Sebaliknya, URL web biasa rentan mengalami eror atau tautan rusak (broken link) di kemudian hari. Jika DOI tidak tersedia, barulah kamu wajib menyertakan URL lengkap yang mengarah langsung ke laman artikel ilmiah tersebut.
Contoh: 6. James Green, “Digital Economy,” Journal of Business Studies 8, no. 1 (2023): 12, https://doi.org/10.1017/jbs.2023.4.
10. Kuasai Penggunaan Singkatan Tradisional: Ibid.
Penggunaan singkatan tradisional Ibid. (singkatan dari ibidem yang berarti “di tempat yang sama”) sangat efektif untuk menyederhanakan penulisan catatan kaki (footnote). Singkatan ini digunakan ketika kamu mengutip kembali sumber yang sama persis dengan sumber pada nomor footnote tepat di atasnya, tanpa ada selingan dari referensi lain. Jika halaman yang dirujuk juga sama, kamu cukup menuliskan kata Ibid. diikuti dengan tanda titik.
Namun, jika kamu merujuk pada buku atau jurnal yang sama tetapi pada halaman yang berbeda, kamu wajib menambahkan nomor halaman baru setelah kata singkatan tersebut. Aturan sederhana ini tidak hanya menghemat ruang ketik, tetapi juga membuat tampilan karya ilmiah Anda menjadi lebih rapi dan profesional.
Contoh Berurutan: 7. Arthur Conan Doyle, A Study in Scarlet (London: Ward Lock & Co, 1887), 15. 8. Ibid. (Artinya: sumber dan halaman sama persis dengan nomor 7) 9. Ibid., 24. (Artinya: sumber sama dengan nomor 7, tapi halamannya berbeda, yaitu halaman 24).
Baca Juga: 10 Cara Efektif Membuat Naskah Storytelling Bahasa Inggris yang Unik & Menarik
Secara keseluruhan, penguasaan format footnote berdasarkan Chicago Manual of Style (CMS) mulai dari ketelitian peletakan nomor superskrip setelah tanda baca, urutan normal nama penulis, penulisan indikator halaman, hingga penggunaan singkatan tradisional seperti Ibid. merupakan pilar penting dalam menjaga integritas akademik dan profesionalitas karya ilmiah standar internasional.
Agar kamu bisa menulis footnote sesuai dengan kaidah yang berlaku, kamu bisa belajar menulis kalimat bahasa Inggris yang tepat di ICAN Learning Centre (ILC). Dengan dukungan dari tutor berpengalaman, kanu bisa lebih mudah untuk belajar kemampuan menulis bahasa Inggris secara lebih maksimal. Di ILC kamu bisa memaksimalkan kemampuan bahasa Inggris untuk lingkungan akademik maupun profesional. Gabung sekarang dan maksimalkan proses belajarmu!





