Bisa bahasa Mandarin belum tentu bisa langsung siap jadi translator. Sebagai penerjemah, kamu bukan cuma harus paham Hanzi atau mengetahui arti sebuah kata, tetapi juga harus bisa menangkap maksud dari teks asli lalu menyampaikannya kembali dalam bahasa Indonesia dengan jelas. Salah satu target kemampuan bahasa Mandarin yang dapat dijadikan acuan adalah mencapai tingkat kemahiran tinggi, misalnya setara HSK 5–6. Namun, tidak ada satu skor HSK yang secara otomatis menentukan seseorang siap menjadi penerjemah profesional.
Pengalaman menerjemahkan secara langsung juga nggak kalah penting karena dari situ kamu bisa belajar menghadapi istilah baru dan kebutuhan klien yang berbeda-beda. Kalau kamu mau menekuni profesi ini, ada beberapa langkah yang bisa kamu coba untuk membangun kemampuan sekaligus mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja.
1. Pastikan Kemampuan Bahasa Mandarin Sudah Cukup Kuat
Kemampuan bahasa jadi modal utama sebelum masuk ke dunia translator. Sebagai seorang translator harus paham teks Mandarin dengan baik, termasuk kosakata, struktur kalimat, ungkapan, dan informasi yang tersirat di dalamnya. Kemampuan membaca pun perlu dilatih, sebaiknya kamu sudah terbiasa membaca teks Mandarin tanpa harus buka kamus dulu.
HSK bisa digunakan sebagai salah satu referensi untuk melihat perkembangan kemampuan bahasa, tetapi hasil ujian saja belum cukup untuk menentukan apakah seseorang sudah siap menerima pekerjaan translator. Karena itu, jangan cuma mengejar nilai ujian. Biasakan juga membaca dan pahami Mandarin dalam konteks yang nyata.
2. Perbanyak Bacaan Mandarin dari berbagai topik
Translator bisa saja mengerjakan teks dengan topik yang berbeda dalam satu waktu. Tapi, supaya nggak kaget saat menemukan jenis teks yang berbeda, coba perluas bahan bacaanmu. Kamu bisa baca berita, artikel, cerita pendek, sampai konten dari bidang yang memang kamu tekuni.
Kebiasaan ini bukan cuma bantu menambah kosakata. Kamu juga jadi lebih familiar dengan cara orang Mandarin menyusun informasi dan menggunakan istilah tertentu dalam konteks yang berbeda.
3. Jangan Biasakan Terjemahkan Kata per Kata
Salah satu tantangan dalam menerjemahkan bahasa Mandarin adalah mencari padanan yang tetap menyampaikan maksud aslinya. Ada kata atau ungkapan tertentu yang mungkin punya arti berbeda saat dipakai dalam kalimat tertentu. Bahasa Mandarin sendiri memiliki urutan pola pikir dan tata bahasa yang unik. Terjemahan literal atau kata per kata membuat kalimat terdengar aneh.
Karena itu, jangan langsung menerjemahkan setiap kata secara terpisah. Baca dulu satu kalimat utuh atau satu paragraf, setelah tahu konteksnya, baru tentukan bagaimana pesan tersebut bisa disampaikan dalam bahasa Indonesia.
4. Kenali Budaya yang Berkaitan dengan Bahasa Mandarin
Bahasa dan budaya punya keterikatan yang cukup dekat, makanya ungkapan, kebiasaan berkomunikasi, atau konteks budaya ikut mempengaruhi cara seseorang menyampaikan sesuatu. Hal ini bisa terasa saat kamu nemuin idiom, istilah budaya, atau ungkapan yang belum tentu ada artinya dalam bahasa Indonesia.
Belajar budaya dan konteks sosial yang berkaitan dengan bahasa Mandarin juga dapat membantu proses belajar menjadi translator. Karena semakin banyak kamu memahami konteks di balik suatu istilah, semakin gampang nemuin cara penyampaiannya kepada pembaca Indonesia.
5. Latihan Menerjemahkan Sebelum Mencari Klien
Kamu nggak perlu nunggu sampai ngerasa udah jago untuk mulai menjadi translator. Justru latihan dari sekarang bisa bantu kamu mengetahui bagian mana yang masih harus diperbaiki. Kamu bisa ambil artikel atau teks Mandarin yang sesuai kemampuanmu, lalu coba terjemahin tanpa melihat hasil terjemahan orang lain.
Setelah selesai, baca ulang hasilnya dari sudut pandang pembaca Indonesia. Coba tanyakan beberapa hal, seperti apakah kalimatnya gampang dipahami? Atau apakah masih ada bagian yang terdengar kayak hasill terjemahan mentah?
Kalau memungkinkan, minta orang lain yang lebih menguasai Mandarin untuk mengevaluasi hasil terjemahanmu. Dengan latihan mandiri yang disertai evaluasi bisa bantu kamu nemuin kesalahan-kesalahan yang mungkin aja terlewatkan waktu kamu mengecek sendiri.
Baca Juga: Perbedaan Bahasa Hokkien dan Mandarin yang Wajib Kamu Ketahui
10 Rekomendasi Lagu untuk Pemula Belajar Bahasa Mandarin
6. Bangun Portofolio agar Terlihat Profesional
Setelah mulai punya beberapa hasil latihan, simpan karya yang menurutmu paling menunjukkan kemampuanmu. Kumpulan hasil tersebut bisa dipakai sebagai portofolio saat mau menawarkan jasa atau melamar pekerjaan.
Supaya lebih menarik, jangan cuma nampilin satu jenis teks aja. Kamu bisa menampilkan beberapa jenis teks, seperti artikel, dokumen informatif, atau konten promosi. Dengan begitu, calon klien bisa melihat bagaimana kamu menangani gaya bahasa dan kebutuhan teks yang berbeda.
7. Coba Ambil Proyek Kecil Terlebih Dahulu
Kalau udah punya basic skill dan beberapa sampel pekerjaan, kamu bisa mulai cari pengalaman lewat proyek kecil. Pengalaman dari proyek nyata bisa mengajarkan hal-hal yang biasanya nggak muncul saat latihan sendiri.
Misalnya, untuk proyek pertama, pilihlah pekerjaan yang masih sesuai sama kemampuanmu. Jangan ambil pekerjaan yang bidangnya belum kamu pahami hanya karena ingin segera mendapatkan pengalaman. Karena kalau kamu menerima proyek di luar kemampuanmu justru bisa bikin hasil terjemahan kurang maksimal.
8. Manfaatkan Tools untuk Mmebantu Proses Menerjemahkan
Translator juga bisa memanfaatkan berbagai tools untuk membuat pekerjaan lebih praktis. Kamus digital, browser, aplikasi pencarian istilah, hingga CAT tools dan Translation Memory bisa bantu proses penerjemahan, terutama saat kamu nemuin banyak istilah berulang. Namun, tools ini sebaiknya digunakan sebagai alat bantu aja bukan sebagai pengganti kemampuan menerjemahkan.
Bahkan dalam praktiknya, seorang translator bisa menggunakan beberapa sumber sekaligus untuk memastikan pilihan kata yang dipakai udah sesuai. Jadi, kemampuan mencari dan mengecek informasi juga menjadi bagian dari pekerjaan penerjemahan.
9. Tentukan Bidang yang Ingin Dipelajari Lebih Dalam
Semakin banyak pengalaman, kamu mungkin saja mulai nemuin jenis terjemahan yang paling cocok. Ada yang lebih suka menerjemahkan dokumen bisnis, sementara yang lain lebih tertarik dengan bidang teknologi, hiburan, atau bahkan game. Memilih bidang tertentu bisa buat kamu lebih terfokus pada satu bidang itu dan tentunya udah punya pemahaman lebih dalam terhadap istilah maupun gaya bahasa yang dipakai.
Kalau udah familiar begitu, kamu juga bisa bekerja lebih efisien karena nggak perlu memulai riset dari nol setiap kali mendapatkan teks yang serupa. Sebab setiap bidang penerjemahan punya karakteristik yang berbeda-beda sehingga kebutuhan kemampuan dan pengetahuan bisa ikut berubah sesuai spesialisasinya.
10. Biasakan Bekerja dengan Teliti dan Profesional
Kemampuan bahasa memang penting, tapi pekerjaan translator nggak berhenti setelah kalimat berhasil diterjemahkan. Kamu juga perlu perhatikan deadline, komunikasi dengan klien, kerahasiaan dokumen, serta kualitas hasil akhir.
Makanya sebelum mengirim hasil terjemahan, coba luangkan waktu untuk pengecekan terakhir. Kebiasaan sederhana ini bisa membuat perbedaan besar. Hasil terjemahan yang akurat sekaligus nyaman dibaca tentu akan lebih mudah dipercaya untuk pekerjaan berikutnya.
Baca Juga: 10 Cara Efektif Belajar Bahasa Mandarin dari Nol untuk Pemula
Menjadi translator Mandarin memang nggak semudah itu, prosesnya pun tidak singkat. Kemampuan bahasa perlu terus diasah, nantinya kemampuan menerjemahkan akan semakin berkembang setelah kamu sering berlatih. Kalau saat ini kamu masih di tahap belajar bahasa Mandarin, nggak masalah kok untuk mulai dari dasar.
Buat kamu yang ingin belajar dan membangun fondasi yang baik, ICAN Learning Centre menyediakan Kelas Bahasa Mandarin yang bisa membantu kamu membangun kemampuan Mandarin secara bertahap, mulai dari kosakata, struktur kalimat, sampai penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari.





